Love is Dignition
Oleh: Moh. Ahsin Bik
Tok tok tok …..! Assalaamu’alaikum! Terdengar suara pintu diketuk. Armand dengan agak malas beranjak dari tempat duduknya. Ia dari dari tadi duduk didepan Televisi menyaksikan berita seputar kasus Bank Century. Kasus yang saat ini sedang hangat-hangatnya menjadi perbincangan di negeri tercinta Indonesia. Kasus yang menelan dana 6,7 Trliliyun. Ternyata tidak hanya di Ibukota kasus ini diperbincangkan, melainkan di desa kecil di Jawa Timur tempat Armand tinggal pun kasus ini ramai di bicarakan.
Wa’alaikum salam….! Jawab Armand setelah ia membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Andika. Andika adalah seorang teman yang selama ini menjadi wartawan surat kabar lokal. Apalah namanya… Tapi biasanya ia mengumpulkan berita tentang pendidikan. Atau sekedar mencari 86an dengan memanfaatkan kasus yang menimpa pejabat-pejabat daerah untuk menambah penghasilan harian. Ia sering bilang ke Armand tentang carut-marutnya pelaksanaan sistem pendidikan khususnya di daerahnya. Menurutnya banyak sekolah yang mengantongi predikat favorit hanya karena prestasi beberapa siswanya di tingkat Nasional. Itupun kebanyakan mereka ikut program pendidikan diluar seperti Bimbel, Kursus, Les Privat atau yang lain. Jadi bukan murni hasil pendidikan sekolah tempat siswa itu belajar. Sedang 90% dari jumlah siswanya yang lain memiliki prestasi yang biasa saja, sama dengan sekolah-sekolah lain yang gak favorit yang jelas-jelas biaya pendidikannya lebih murah. “He! Pa kabar? Tumben nyambang? Kemana aja situ gak perrnah nongol? Dapat banyak job ya? Ayo masuk!” Armand langsung menyerang Andika dengan banyak pertanyaan kemudian mempersilahkannya masuk.
“Nomormu ganti ya? Aku hubungi gak pernah aktif!” Tanya Andika sambil duduk lesehan diatas lantai yang beralaskan karpet. Maklumlah memang rumah Armand tidak menyediakan kursi diruang tamu. Melainkan menggelar karpet di atas lantai. “Biar bisa ngobrol nyantai kalau ada tamu.” Kata orang tua Armand waktu itu. Tapi memang benar, kesan pertama ketika masuk rumah Armand adalah kesan nyaman, santai, meskipun sebenarnya orang tua Armand adalah seorang tokoh masyarakat yang selama ini dikenal mampu mengayomi masyarakat. Seorang kiyai musholla yang santrinya banyak. Santrinya adalah anak-anak kecil warga sekitar rumahnya yang datang tiap sore waktu ashar hingga isya’ mereka baru pulang ke rumahnya masing-masing. Beliau mengajar ngaji di musholla yang ia bangun dengan dananya sendiri. Orang tua Armand adalah petani yang cukup sukses di daerahnya. Pak Sayyid Shirojul Munir namanya. Tapi orang-orang biasa memanggilnya Kiyai Sayyid. Luas lahan pertaniannya hampir seluas kampungnya yang tersebar di beberapa tempat. Para buruh tani yang bekerja pada ayahnya adalah warga sekitar sawahnya berada. Meskipun begitu, Kiyai Sayyid adalah orang yang selalu membuka pintu kepada semua tamu yang datang ke rumahnya. Dia tidak pernah membedakan tamu yang datang, mau tamunya itu kaya, miskin, orang minta sumbangan, atau orang yang sekedar ingin ngobrol dengan beliau. Bahkan suatu ketika, tengah malam, ada orang yang mencongkel pintu rumahnya, oleh Kiyai Sayyid malah di tunggu didalam rumah. Setelah orang yang mencongkel rumahnya itu masuk, oleh Kiyai Sayyid malah di persilahkan duduk, karena memang biasanya tengah malam itu Kiyai Sayyid sudah bangun dari tidurnya untuk sholat malam.
Armand kemudian ke belakang mengambil Air Minum mineral. “Ada kabar apa ne Mas Wartawan?” Tanya Armand sambil tertawa. “Masih belum bosen kan jadi Wartawan?” tanyanya lagi yang diikuti tertawa oleh Andika. Selama ini Armand dan Andika berteman karib. Armand adalah seorang aktifis lingkungan hidup yang sering keluar masuk hutan untuk menanam pohon. Bahkan ia memanfaatkan sepetak lahan ayahnya untuk menyimpan bibit sekaligus melakukan pembibitan. Ribuan jenis tanaman hutan ia semai bibitnya hingga memenuhi sepetak lahan itu. Teman-temannya para pecinta Alam seringkali datang untuk meminta bibitnya saat akan melakukan penghijauan hutan. Armand juga tergabung dalam Tim SAR Independent ketika terjadi bencana untuk melakukan Evakuasi. Ia sebenarnya jarang pulang ke rumah orang tuanya itu. Ia malah lebih sering di rumah yang ia kontrak bersama rekan-rekannya di desa dekat hutan bersama teman-temannya. Selain itu Armand juga melakukan pembinaan buat masyarakat Desa Hutan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Di beberapa tempat dia mendirikan lembaga pendidikan yang ia beri nama Sekolah Kampung Rohmatan Lil’Alamien. Materi pelajaran lebih banyak pada melatih skill anak-anak dan pemuda kampong untuk menjaga dan memanfatkan hutan dengan layak tanpa mengeksploitasi mereka. Dia mempunyai cita-cita menjadikan masyarakat desa pinggiran bisa hidup dari apa yang mereka hasilkan sendiri dengan melestarikan lingkungannya.
“Ngomong-ngomong tumben kamu di rumah?” Tanya Andika membuka pembicaraan. Sambil mengeluarkan sebungkus rokok kretek yang barusan ia beli di warung saat jalan menuju rumah Armand kemudian mengambilnya sebatang dan menghisapnya.
“Ia nih, kemarin malem aku pulang, kangen ma Orang Tua.” Jawab Armand yang juga mengeluarkan sebungkus rokok Mild dan menghisapnya sebatang juga. Sehingga asap rokokpun ikut menghiasi ruangan tempat mereka ngobrol.
“Kok tau aku pulang?” Tanya Armand karena memang biasanya Armand jarang dirumah.
“Udah lama aku pengen ketemu ma kamu Man. Tadi aku kesini juga kupikir siapa tau kamu pas di rumah. Soalnya nomermu ku hubungi gak pernah aktif.”
Armand dan Andika akhirnya terlibat pembicaraan serius. Beberapa bulan terakhir ini keadaan Andika dan Istrinya sedang dalam masalah. Masalah yang menurut Andika berat. Istrinya menuntut cerai karena merasa tidak tahan dengan Andika yang penghasilannya tidak jelas. Kadang dapet kadang kagak.
Pernah suatu ketika Istri Andika menelepon saat Andika sedang melakukan wawancara di rumah seorang kepala sekolah. Istrinya marah-marah karena waktu itu istrinya meminta Andika untuk mengantarkannya ke rumah orang tuanya. Dengan berat dan perasaan gak enak sekaligus malu kepada kepala sekolah yang sedang ia wawancarai itu, akhirnya Andika pamit untuk pulang. Setibanya di rumah kontrakan, ia langsung mengantarkan istrinya pulang. Dan sesampainnya di rumah mertuanya, Andika langsung pamit untuk kembali ke rumah kontrakannya tanpa menunggu istrinya bilang ya. Istrinya adalah seorang guru TK. Mereka berdua menempati rumah kontrakan yang berjarak sekitar 50 km dari rumah mertua Andika. Selama ini memang Andika dan Istrinya seminggu sekali pulang ke rumah orang tua istrinya. Setiap sabtu dan minggu kemudian hari senennya kembali ke kontrakan karena Istrinya harus mengajar di TK.
Semenjak kejadian itu, Andika gak pernah mau mengantar Istrinya pulang, dan menyuruhnya untuk pulang sendiri. Kalaupun mau mengantar, pasti karena terpaksa atau jika di rumah sedang ada acara yang Andika merasa gak enak hati untuk tidak hadir. Dan Andika lebih memilih diam dirumah kontrakan. Dan kalau ingin kemana-mana ia harus jalan kaki, karena satu-satunya motor dibawa istrinya pulang.
Begitu seterusnya hingga beberapa bulan. Saat Andika mencoba bicara dengan Istrinya pun yang terjadi malah adu mulut yang sama sekali tidak jelas ujung pangkalnya. Akhirnya hubungan Andika dengan Istrinya menjadi tidak harmonis. Mereka berdua tinggal satu rumah tapi berjalan sendiri-sendiri. Saat sama-sama di rumahpun tidak ada pembicaraan yang berarti. Malah kadang-kadang Andika pulangnya larut malam hanya untuk tidur meskipun ketika di luar ia tidak banyak melakukan aktifitas.
Sebenarnya Andika sadar, keadaanya memang sulit. Awalnya ia menjadi wartawan karena memang ia tidak menemukan pekerjaan lain yang lebih menghasilkan. Surat kabar tempat ia bernaung pun adalah surat kabar lokal yang opletnya kecil. Hasilnya tidak sebanding dengan kerja keras yang ia lakukan. Tapi semakin lama ia semakin menikmati pekerjaan sebagai wartawan. Andika merasa dunia jurnalistik telah menjadi dunianya. Dunia jurnalistik menjadi dunia tempat ia mengekspresikan pikiran-pikirannya, ide-idenya dan lain sebagainya. Namun istrinya menginginkan Andika bisa bekerja secara normal, menjadi karyawan di sebuah perusahaan, dengan gaji tetap, berangkat pagi, pulang sore, setelah itu berkumpul dengan istrinya.
“Memangnya wartawan bukan pekerjaan yang normal?” pikirnya waktu itu. Tapi penghasilan yang ia dapat memang tidak pasti jumlahnya, kadang besar, kadang kecil, malah kadang tidak mendapat penghasilan. Karena sebagai wartawan dari surat kabar lokal, Andika musti pintar dan hati-hati dalam memanfaatkan situasi. Penghasilannya adalah dari para pejabat yang bersedia memberinya uang atau istilah teman-teman wartawan adalah 86an, atau dari perusahaan-perusahaan yang memasang Iklan pada surat kabar yang ia punya, dan juga dari hasil penjualan surat kabarnya. Sedangkan pekerjaannya tidak terhitung jam. Tapi menjadi wartawan memang complicated alias rumit. Banyak hal yang tidak bisa di fahami ditengah banyaknya yang dihadapi. Mulai dari idealisme hingga kesempatan menjual diri, kritis hingga krisis dan lain sebagainya. Satu sisi seorang wartawan banyak melihat realitas sosial yang tidak adil sedangkan disisi lain, seorang wartawan terkadang berada dalam belitan ketidak adilan itu. Setidaknya itu juga yang dirasakan Andika sebagai seorang wartawan.
Nyatanya permintaan sederhana dari istrinya itu tidak bisa Andika wujudkan. Bukan tidak mau, tapi berkali-kali ia gagal dalam pekerjaan-pekerjaan yang sudah ia lakukan sebelumnya. Andika pernah bekerja sebagai sales makanan ringan namun hanya bertahan 1 kali kontrak selama 3 bulan dan tidak bisa di perpanjang lagi. Di satu sisi Andika hanya ingin Istrinya bisa menerima keadaan ini dengan sabar. Tidak perlu melampiaskan setiap kekesalan dengan kata-kata kasar, apalagi pada suaminya sendiri. Toh selama ini, Andika dan Istrinya tidak pernah kelaparan.
Andika menceritakan semua yang terjadi dalam rumah tangganya kepada Armand. Ia sebelumnya tidak pernah menceritakan kemelut yang terjadi di dalam rumah tangganya itu kepada siapapun. Bahkan selama ini kepada teman-temannya Andika tidak pernah menunjukkan tanda-tanda ada masalah dalam rumah tangganya. Namun kali ini ia terpaksa menceritakan masalahnya kepada Armand sekedar untuk share, sekaligus menemukan solusi dan mengeluarkan segala uneg-uneg yang selama ia simpan sendiri kepada temannya. Ia mengenal Armand selama ini adalah sosok orang yang perduli dengan teman, meskipun penampilannya cuek bahkan sering bercanda dan jarang kelihatan serius. Dan yang paling penting Armand adalah orang yang cerdas, bijaksana dalam mengambil keputusan dan suka menolong. Tapi sayangnya Armand belum juga menemukan istri pendamping. Kekasih Armand dulu adalah seorang Pecinta Alam juga, namanya Diana Anindita, namun meninggal saat rencana pernikahan sudah ditentukan karena kecelakaan.
Kekasih Armand terjatuh dan masuk kedalam jurang dan meninggal waktu itu juga saat melakukan ekspedisi di Kalimantan. Armand juga ada di sana waktu itu, tapi ia tak bisa menyelamatkan kekasihnya. Dan hingga saat ini, Armand belum menemukan orang yang bisa menggantikan kekasihnya itu.
“Man, aku bingung, saat ini aku gak tau harus bagaimana. Istriku meminta cerai.” Armand memperhatikan temannya dengan seksama. Ia sendiri sebenarnya gak tau harus bilang apa ke temannya itu. Karena ia sendiri merasa tidak mempunyai pengalaman sama sekali tentang rumah tangga, tentang permasalahan yang terjadi di dalamnya, tentang apapun yang ada dalam rumah tangga. Tapi Armand bisa merasakan kesedihan temannya itu.
Tak terasa, puntung rokok di dalam asbak sudah menumpuk. Armand kembali lagi menyulut sebatang rokok. Begitu juga Andika.
“Dik! Kamu masih sayang sama istrimu? Apa kamu mencintai istrimu?” Armand terdiam sejenak.
“Sorry Bro! Bukan maksudku mempertanyakan pertanyaan bodoh ini sama kamu.” Armand jadi salah tingkah dengan pertanyaan yang menurutnya bodoh itu yang dia lontarkan ke Andika. Ya jelaslah Andika masih sayang sama Istrinya, Andika masih mencintai Istrinya. Andika hanya memandangi Armand yang jadi salah tingkah.
Tapi Andika mulai memikirkan pertanyaan temannya itu. Kemudian ia mencoba merasakan apa yang ada dalam hatinya. Benarkah masih ada cinta di hatinya itu untuk istrinya. “Gak papa Man, aku juga sedang berfikir tentang perasaanku saat ini sama Istriku.” Kata Andika kemudian.
“Aku bukan orang yang berpengalaman dengan rumah tangga, karena aku sendiri belum berkeluarga. Mustinya kan kamu yang ngasih aku nasehat tentang keluarga. Tapi ada beberapa hal yang aku ingat, ini juga aku cuma dengar dari Bapakku saat memberi nasehat ke tamunya yang datang.” Armand memulai pembicaraan.
“Seorang laki-laki adalah imam dalam keluarga. Tanggung jawab imam adalah memimpin, mendidik, mengayomi, memberi nafkah, dan lain sebagainya. Kekuatan bahtera rumah tangga yang di bangun tergantung bagaimana seorang laki-laki atau suami mampu memimpin, mampu mendidik, mampu mengayomi dan juga mampu memberi nafkah pada keluarganya. Disamping itu, kekuatan itu harus didukung dengan keihlasan istri dalam menerima keadaan yang ada dalam rumah tangga itu.” “Begitu kira-kira bro!” kata Armand memberi nasehat. “Waduh, jadi kayak orang tua aku ya.” Armand melanjutkan kalimatnya dengan bercanda. “Emang kamu udah tua Man, Cuma kamu aja yang belum kawin. Tuh temen-temen seumuran kamu udah pada punya cucu.” Lalu mereka berduapun tertawa memecahkan keseriusan.
“Trus kamu sendiri gimana Man? Udah ada calon yang baru belum? Kan banyak tu temen-temen kamu yang aku yakin pasti mau sama kamu! Ada Nia, ada Irma, Yeni, dan satu lagi tu siapa namanya…. Kayaknya kalau aku perhatikan dia perhatian tu sama kamu!” tanya Andika.
“Gak tau lah bro! Aku masih belum bisa melupakan Dian. Dia telah masuk terlalu dalam dalam hatiku.” Timpal Armand.
“Bagiku cinta itu Dignition, It’s a gift. Allah menghadirkan cinta kepada orang yang dikehendaki. Allah juga yang kuasa mencabutnya kembali. Meskipun kadang nafsu kita membungkusnya dengan hal-hal yang membuatnya tak suci lagi. Tapi menurutku kita boleh kok meminta kepada Allah untuk menganugerahkan cinta dalam hati kita buat seseorang. Dan kalau kita minta dengan sungguh-sungguh, Allah pasti mengabulkan. Kalau yang kita tidak minta saja Allah sanggup memberikan pada kita, apalagi dengan yang kita minta, do’a kita! Iya kan?” Lanjut Armand.
“Bro! cinta itu urusan memberi, bukan sekedar mengharap kembali. Kalau kita mencintai seseorang, kita juga harus mau mengerti dan menerima dia sesuai yang ada padanya. Bukan dengan mengada-adakan atau mungkin menolak apa yang akan ada padanya. Apa yang kita miliki kita berikan padanya. Kebahagian kita adalah melihat orang yang kita cintai bahagia. Meskipun jika pada endingnya orang yang kita cintai bisa berhagia tanpa kita atau merasa bahagia dengan orang lain.”
Kita tidak berhak untuk merubah orang yang kita cintai menjadi seperti apa yang kita inginkan. Karena aku yakin kita sendiri juga gak suka orang lain merubah kita seperti yang mereka suka. Mungkin juga jika sesuatu bisa menyakiti kita, berarti juga bisa menyakiti orang lain jika itu menimpanya. Kalau ada yang mau kita ubah, maka pertama yang kita ubah adalah diri kita sendiri. Tentu saja berubah untuk menjadi lebih baik.”
“Kita seringkali munafik dengan diri kita sendiri, kita pura-pura gak butuh padahal kita butuh, kita pura-pura gak peduli padahal kita peduli. Kita seringkali beranggapan bahwa yang kita rasakan adalah yang paling berat padahal sebenarnya tidak seberapa jika di bandingkan dengan orang-orang yang secara defacto jauh lebih menderita dibandingkan kita.”
“Saat ini, Allah menganugerahkan banyak cinta dalam hatiku, cinta terhadap orang-orang desa itu, cinta terhadap aktifitasku saat ini. dan aku selalu berharap Allah juga segera menganugerahkan rasa cinta dalam hatiku buat seseorang yang dikirim oleh Allah untuk menjadi pendamping hidupku.”
“Man, kamu ngomong apa’an sih?” tanya Andika menghentikan ucapan Armand.
“Aku sendiri gak tau ngomong apa’an barusan.” Sahut Armand.
Akhirnya mereka berdua terdiam dan kemudia tertawa terbahak-bahak. Dalam benak Andika mulai menggelayut pikiran-pikiran tentang apa yang baru saja dikatakan Armand. Ia mulai berfikir tentang dirinya sendiri, tentang kemelut yang terjadi di tengah rumah tangganya. Ia menyadari selama ini juga selalu egois dengan apa yang dikerjakannya. Ia jarang memperhatikan Istrinya yang mungkin sebenarnya hanya butuh perhatian lebih darinya. Ia akan berusaha memperbaikinya. Ia akan membicarakan permasalahan rumah tangga ini dengan Istrinya. Dalam hatinya ia berharap bisa membuat Istrinya bahagia dengan keadaannya sekarang. Tiba-tiba di tengah gelak tawa keduanya, ada orang yang mengucapkan salam. Dan secara serentak mereka berdua menjawab salam itu. Ternyata itu adalah Kiyai Sayyid yang baru datang dari kebun. “Eh ada tamu tho!” Kiyai Sayyid menyapa Andika dan Andika mengangguk sambil menyalami Kiyai Sayyid. “Man, sudah ashar ne, sholat dulu trus diajak makan temennya itu ya…!”
***
Jakarta, 13 Januari 2009
Rabu, 13 Januari 2010
Cerpen
Chat BUZZ
Oleh: Moh. Ahsin Bik
Hari itu seperti biasa, tidak ada yang spesial di hari itu. Semua aktifitas berjalan seperti biasanya, ada anak-anak, ada para ustadz, sholat berjama’ah, membaca Al-Qur’an, makan malam bersama dan lain sebagainya.
Seperti biasa, malam hari adalah salah satu masalah bagiku. Karena pada saat tubuh ini capek dan butuh untuk di istirahatkan, mataku gak mau terpejam. Akhirnya aku mengambil handphone kemudian aku membuka aplikasi chatting yang tersedia. Iseng-iseng aku masuk Room Chat yang berlabel Islam didalamnya. Siapa tau lagi ada bahasan menarik yang bisa aku simak, sekaligus untuk mencari kenalan di dunia maya. Setelah masuk dalam Room, bahasan hanya sebatas ucapin salam dan jawab salam aja, karena banyak yang keluar masuk keluar masuk. Tapi gak papalah, toh jawab salam kan baik. Setelah beberapa saat, aku add beberapa nick yang ada dengan random alias asal add tanpa pilih-pilih dulu. Hingga tanpa terasa, tiba-tiba anak-anak udah rame membangunkan aku untuk sholat malam. Yaa Allah ternyata aku bisa terlelap juga.
Meskipun berat, tetap saja aku bangun. Maklumlah, aku hidup di tengah anak-anak yang ada di asrama. Asrama yang coba kami bangun dengan tekad memberikan pendidikan kepada anak-anak drop out. Aku bersama teman-teman seperjuangan dengan berbagai keterbatasan mengemban amanat yang diberikan oleh orang tua dari anak-anak tidak mampu itu untuk mendidik, mengayomi sekaligus menjadi bapak asuh mereka. Awal perjalanan kami memang rumit, pendidikan yang kami terapkan adalah pendidikan ala pesantren meskipun sebenarnya tidak ada diantara kami yang pantas menyandang predikat Kiyai. Tapi dengan kemauan yang keras, kami telah melewati banyak hal meskipun kami sadar masih banyak hal lain yang pasti akan kami hadapi. Tapi kami yakin, Allah tidak pernah tidur. Dan kami bersyukur hingga saat ini kami bisa bertahan.
Pada pagi hingga siang hari adalah waktu bagi anak-anak untuk sekolah, bagian dari kami mengajar anak-anak sedang beberapa teman kami keluar untuk mencari maisyah demi kalangsungan hidup kami. Sedangkan pada malam hari, biasanya aku lembur didepan komputer untuk mempersiapkan materi yang akan diajarkan pada anak-anak keesokan harinya. Karena memang biasanya aku gak bisa langsung tidur. Malah sering aku tertidur didepan computer yang masih menyala. Pelan-pelan kami jalankan semua proses dengan kekuatan kami. Bukannya sombong, tapi saat ini kebanyakan orang yang mampu alergi dengan orang yang meminta sumbangan. Apa yang kami lakukan belum berarti apa-apa hingga mereka melihat dengan jelas hasil dari proses pendidikan yang kami jalankan.
Malam itu, setelah aku menyelesaikan semua pekerjaan, waktu sudah menunjukkan jam 01:15 WIB malam. Karena mata belum mau terpejam, dan anak-anak juga belum waktunya bangun, akhirnya aku ambil lagi handphone dan membuka aplikasi chatting nya. Tidak lama kemudian setelah online, ada seseorang yang menyapaku dengan salam yang komplit alias lengkap. Nicknamenya RAN dan dia ternyata perempuan. Akhirnya aku chatting ma dia. Berkenalan dan akhirnya cerita banyak hal. Cerita yang sama sekali gak jelas ujung pangkalnya. Toh ini cuma chatting pikirku. Tak terasa waktu berlalu, entah apa saja yang sudah aku obrolkan dengan perempuan di tempat yang jauh disana. Ngakunya sih. Soalnya dia bilang ada Sulawesi Selatan.
Tepat pukul 03.00 WIB, aku bangunkan anak-anak untuk sholat malam. Sholat malam itu penting banget. Karena pada waktu sepertiga malam itu, Allah membuka lebar-lebar pintu rahmat-Nya untuk para hamnba yang mau bersujud pada-Nya. Setidaknya itulah yang diajarkan guru-guruku dulu. Dan sekarang aku dan teman-teman mengajarkannya pada anak-anak. Biasanya anak-anak setelah sholat malam, langsung disambung hingga shubuh. Setelah sholat shubuh ada kegiatan mengaji hingga waktu Ishrof. Waktu Ishrof itu adalah waktu pemisah antara shubuh dengan dhuha. Dan biasanya pada waktu-waktu seperti, rasa kantukku datang. Ngantuk banget. Akkhirnya aku putuskan untuk mengistirahatkan sejenak tubuhku dengan sebelumnya berpesan sama anak-anak untuk dibangunkan jam 07.00 WIB.
Yah begitulah diriku, sehari-harinya berkutat dengan kegiatan yang berhubungan dengan anak-anak. Tiada hari tanpa mereka. Tapi terus terang, meskipun kadang kesal, capek, marah, bosan dan lain-lain, rasa sayangku pada anak-anak selalu menghiasi kehidupanku. Mereka adalah hidupku, mereka adalah darahku.
Beberapa minggu berlalu, hubunganku dengan teman chattingku pun semakin intim. Kami merasa sudah sangat saling mengenal satu sama lain. Bahkan kami sudah saling bertukaran nomor handphone. Sehingga saat tidak online, maka kami saling mengirim sms dan telephone. Namanya adalah Vivian Maharani. Hemm, nama yang indah. Kalau dari namanya mungkin dia cantik sekali orangnya. Dia adalah seorang Bidan desa. Puskesmas di desanya membuka layanan UGD 24 jam, jadi sewaktu-waktu dia bisa saja menginap di Puskesmas karena Dinas. Usianya sudah dewasa. Bahkan kalau dilihat dari usianya, sudah saatnya dia menikah. Dia selisih 4 tahun lebih muda dariku. Pada 22 Oktober nanti, usianya genap 26 tahun. Banyak yang ia ceritakan tentang dirinya padaku. Dan banyak juga aku cerita tentang diriku padanya, termasuk tentang kehidupanku bersama anak-anak diasrama.
Dia bilang hatinya sedang terluka. Karena orang yang dia cintai meninggalkannya. Menikah dengan temannya sendiri. Ayahnya adalah seorang pedagang yang membuka kios di pasar dekat rumahnya. Dia punya seorang kakak perempuan yang sekarang sudah menikah dan punya anak dan seorang adik yang saat ini masih kuliah. Kalau aku boleh menilai sih, sebenarnya kehidupan mereka seperti biasa. Mereka bukan keluarga yang kaya raya, tapi cukup mapan. Mereka menjalankan aktifitas masing-masing sebagaimana aku juga menjalankan aktifitasku di asrama bersama anak-anak.
Tiap hari kami menyempatkan waktu luang untuk chatting. Karena kadang aku merasa, dengan chatting, obrolan bisa jadi lebih nyaman. Lagian bisa lebih hemat pulsa. Bahkan seringkali HPku aku biarkan online seharian sehingga di sela-sela aktifitas aku bisa chatting dengan dia. Dan sepertinya aku tak bisa melewatkan satu hari berlalu tanpa chat dengannya. Walaupun hanya seekedar mengucapkan salam.
Saat itu, anak-anak menjelang ujian akhir semester. Dan biasanya menjelang ujian seperti ini, saya dan teman-teman menjadi lebih sibuk. Mulai dari memberikan tambahan jam belajar dan materi pada anak-anak, kami juga harus menyiapkan soal-soal ujian. Tugas mengetik adalah bagianku. Jadi aku semakin sering lembur. Semakin jarang tidur malam, yang juga semakin jarang online. Hampir seminggu aku tidak online. Kalau sudah begitu aku hanya bilang kalau aku sangat sibuk ke Vivian lewat sms. Dia bisa mengerti, sehingga dia juga jarang online. Katanya sih nunggu sampai aku sempat online lagi. “Ya udah lah gak papa. Ntar kalau udah selesai semua kan bisa dilanjut.” Pikirku. Akupun sibuk dengan aktifitasku sendiri. Hingga beberapa hari berlalu tanpa online, tanpa sms, tanpa telephone, dan tanpa kontak dengan Vivian.
Diam-diam aku mulai sangat merindukannya. Aku ambil HPku, kemudian aku tekan nomornya yang sudah aku simpan. Tapi nomornya gak aktif. Beberapa kali aku coba hubungi, tapi tetap tidak aktif. Akhirnya aku putuskan untuk mengirimkan sms ke nomornya. “Ntar kalo nomornya dah aktif kan masuk sendiri.” Pikirku. Tapi nyatanya, setelah beberapa hari, laporan pesan yang muncul adalah expired.
Saat itu, tiba-tiba aku merasa ada yang hilang dalam hidupku. Saat-saat luang aku hanya melihat HPku dan mencoba menghubungi nomor Vivian yang tetap saja masih belum aktif. Aku gak tahu apa yang terjadi dengannya. Aku sering berpikir apakah karena aku gak pernah menghubunginya saat aku sibuk kemarin itu. Tapi kayaknya gak mungkinlah. Dia cukup dewasa untuk mengerti. Semakin aku berfikir, semakin aku gak menemukan jawaban, dan semakin kerinduan menyelimuti hatiku. Semakin lama rasa rindu itu semakin mengelora dalam kalbuku. Seakan tak bisa ku tahan lagi. Hatiku kalut, dalam benakku, nama Vivian telah menghapus nama-nama lain. Nama Vivian telah terukir dalam hatiku dengan begitu dalam.
Hari demi hari berlalu dengan kerinduan yang tak pernah hilang dari hatiku. Tapi aku selalu berusaha melewati waktuku dengan aktifitasku bersama anak-anak. Hanya saja kali ini, kata teman-temanku aku terlihat berbeda. Mereka bilang aku jadi pendiam. Meski begitu, teman-temanku tidak mau terlalu ikut campur dengan urusanku. Bagi kami, jika urusan pribadi tidak sampai mengganggu aktifitas diasrama, maka kami menganggap tidak ada masalah. Dan aku memang berusaha sebaik mungkin untuk tidak mencampur adukkan urusan pribadiku, apalagi perasaanku dengan kegiatan pendidikan anak-anak. Anak-anak tetaplah prioritas bagi kami. Tak ada yang lebih penting daripada anak-anak.
Suatu malam, badanku terasa sangat capek. Aku berniat tidur lebih cepat pada malam itu. Karena aku ingin istirahat. Tapi tetap saja mataku sulit terpejam. Padahal rasanya aku sudah sangat ngantuk banget. Aku minta tolong anak-anak untuk menginjak-injak punggungku, tentu saja aku sediakan snack untuk membalasnya. dengan semangat beberapa dari mereka menginjak-injak punggungku. Masya Allah, ternyata nyaman sekali. Sampai akhirnya akupun tertidur.
Seperti biasa pukul 03.00 WIB aku terbangun dan langsung membangunkan anak-anak untuk bersama-sama sholat malam. Dengan antrian kami mengambil wudhu kemudian setelah selesai, semua berkumpul diruangan musholla untuk sholat berjama’ah. Aktifitas seperti biasa dimulai. Setelah sholat shubuh kami lanjutkan dengan tadarusan. Kemudian anak-anak mengerjakan piket kebersihan. Akupun mandi untuk persiapan kegiatan selanjutnya. Setelah mandi dan ganti baju, aku mengambil HPku. Kulihat ada 7 panggilan tak terjawab disana. Setelah ku buka, tiba-tiba jantungku berdegub kencang. Nama Vivian tercantum disitu. Sejenak seperti ada air menyiram gersangnya hatiku yang merindu. Seketika itu juga hatiku berbunga-bunga. Aku tak sabar mendengarkan suaranya, kembali chatting dengannya, dan bercerita-cerita. Tapi pagi itu, aku musti mengajar. Jadi aku masih harus menahan keinginanku untuk menelpon Vivian. Orang yang sama sekali belum ku lihat wajahnya. Jangankan orangnya, fotonya belum ku lihat. Tapi aku sama sekali tak perduli dengan semua itu. Karena bagiku kecantikan tidak bisa diukur dari penampilan fisik saja. Selama ini aku merasakan kecantikan Vivian lewat suaranya yang halus, tutur katanya yang sopan, suara tangisnya yang seperti irama lagu mendayu-dayu. Rindu ini juga tak pernah ku undang. Ia hadir dengan kehendaknya sendiri. Menggelayut dalam keharmonisan irama hati. Yang semakin lama semakin menumbuhkan rasa cinta yang tak pernah bisa ku mengerti. Toh, seperti kata orang bijak bilang, cinta itu urusan memberi, bukan untuk meminta kembali.
Setelah usai semua kegiatan siang itu, lantas akupun mencari tempat menyendiri untuk menghubungi Vivian. Vivian pun mengangkat teleponnya. Suara di telephone tak terdengar. Terputus-putus. “Sinyal lagi gak bagus kali ya.” Pikirku. Aku lihat HPku. Sinyalnya penuh. Mungkin HPnya Vivian kali ya yang gak dapat sinyal. Akhirnya terpaksa kumatikan juga HP. Dan tak berapa lama kemudian, sebuah SMS masuk. Ternyata dari Vivian. “Kak, OL yuk!” begitu isi SMSnya. Dan akupun langsung Online.
Sejenak kami terhanyut dalam obrolan yang seru. Aku bilang semua yang aku rasakan selama ini padanya. Jempolanku sepertinya sudah fasih sekali bergoyang diatas keypad HP menuliskan kata-kata rindu, hingga aku sendiri gak sadar, dalam beberapa saat Vivian sama sekali gak membalas kalimat-kalimat yang aku kirimkan. “Kok diem aja?” kataku. Dia hanya membalas dengan sangat pendek. “K…” katanya. “Kenapa dik?” Jawabku. “Adk pgn ketemu ma kk.” Katanya lagi.
Aku terdiam sejenak, berfikir tanpa tahu apa yang ku fikirkan. Kalau saja ia tahu, keinginanku untuk bertemu dengannya lebih besar dari keinginanku terhadap yang lain di dunia ini.
“Adk serius pengen ketemu kk?” tanyaku.
“Ia kak! Pengen banget…” jawabnya lagi.
“KK juga pengen ketemu ma adk.” Kataku.
“Tapi tunggu kk libur ya dik.” Lanjutku.
“Ya udah, kalo kk g bisa g pa2.” Katanya.
“Kk janji akan ke tmpt adk.” Kataku.
Chatting pun berlanjut hingga waktu ashar tiba. Aku bilang pada Vivian aku aka nada kegiatan lagi sama anak-anak di asrama. Kemudia aku pamit ke dia sambil berjanji untuk datang.
Dalam pikiranku berkecamuk hasrat tak menentu. Aku ingin sekali saat itu segera tiba. Aku datang ke tempat Vivian, bertemu dengannya dan… tapi darimana aku dapat ongkos untuk berangkat kesana? Akhirnya akupun memutuskan untuk mengumpulkan uang yang aku punya sambil mencari kerjaan di luar untuk tambahan.
Beberapa hari kemudian, pada saat jam istirahat siang, aku menyalakan komputer. Kebetulan saat itu aku dapat garapan lay out majalah dari seorang teman. Lumayan lah buat tambahan, meskipun gak terlalu banyak. Aku duduk di depan computer dan akupun memulai pekerjaanku. Lantas samar-samar kudengar pintu depan Asrama diketuk. Akupun berdiri dari tempat dudukku dan mendekat ke pintu hendak membukakan pintu.
Setelah pintu ku buka, ku lihat seorang gadis, cantik, menggunakan mukena putih bersih berdiri di depan pintu. Aku kaget setengah mati. Lantas aku berusaha mengendalikan diriku dari rasa kaget itu. Kuperhatikan mukanya yang putih bersih namun agak pucat. Bibirnya tersenyum melihatku, tapi dari matanya keluar air mata bening menetes perlahan tanpa ia berusaha untuk mengusapnya. Aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Dia terlihat asing bagiku tapi rasanya aku seperti sudah sangat mengenalnya. Jantungku semakin berdegub kencang sedangkan dia tak mengucapkan sepatah kata pun. Agak lama kami saling berpandangan. Kami berdua masih di pintu, bahkan aku sampai lupa mempersilahkkan ia masuk. Sejenak kemudian ia mengucapkan salam. Hatiku semakin berdegub lebih kencang. Suara itu aku bisa merasakannya. Mulutku tak sanggup mengeluarkan sedikit kata-kata untuk menjawab salamnya. Aku semakin tegang, sekujur tubuhku serasa kaku tak mampu bergerak. Hingga aku disadarkan oleh getar dan suara ringtone HPku. Aku masukkan tanganku ke saku celanaku. Ku ambil HPku dan kulihat nama Vivian memanggil. Akhirnya akupun mengangkat HPku. Aku permisi sejenak kepada tamu bermukena yang sedang berdiri di depan pintu asramaku. Lantas aku mengangkat telpon itu. “Assalaamu’alaikum” Kataku. Gak ada jawaban, yang ada hanya suara tangis tersedu-sedu. Lantas sayup-sayup terdengar diantara suara tangis itu memanggil-manggil nama Vivian berkali-kali. Jantungku semakin berdegub kencang. Tubuhku semakin kejang. Akupun menoleh ke pintu dimana gadis itu berdiri. Di menghampiriku. Lantas dengan suara lembut dia bilang padaku.
“Kak….. Aku Vivian….”
Seketika aku merasa dunia ini gelap dan kemudian aku tak bisa lagi merasakan apa-apa…..
Saat aku tersadar, aku sudah berada di tengah kerumunan anak-anak asrama. Diantara anak-anak itu juga ada para Ustadz. Perlahan-lahan aku mulai bangkit kemudian aku duduk diantara mereka. Hatiku masih bergetar, aku mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi. Kejadian yang belum sepenuhnya aku mengerti. Seorang perempuan memakai mukena yang berdiri didepan pintu, telepon dari Vivian namun hanya terdengar suara tangis.
Setelah sekian lama baru aku mengerti, Vivian telah pergi. Selama ini ia menderita kanker otak akut yang menggerogoti kepalanya yang tidak pernah ia ceritakan kepadaku. Waktu HPnya tidak bisa aku hubungi dulu ternyata ia sedang dirawat dirumah sakit di daerahnya sana. Keluarganya menghubungi aku lewat telephone. Vivian telah bercerita banyak tentang diriku kepada keluarganya. Vivian sering kali bilang pada keluarga kalau dia ingin menemui aku sebelum pergi meninggalkan dunia ini. Ia dan keluarganya waktu itu tahu, secara medis, nyawa Vivian tidak akan bertahan lebih lama dari 2 bulan. Aku hanya bisa terdiam. Tak sepatah katapun terucap dari bibirku. Dan tanpa terasa pipiku telah terbasahi air mata. “Yaa Allah…..” desahku. “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rooji’uun”… Akupun tak sadarkan diri untuk kesekian kalinya….
***
Oleh: Moh. Ahsin Bik
Hari itu seperti biasa, tidak ada yang spesial di hari itu. Semua aktifitas berjalan seperti biasanya, ada anak-anak, ada para ustadz, sholat berjama’ah, membaca Al-Qur’an, makan malam bersama dan lain sebagainya.
Seperti biasa, malam hari adalah salah satu masalah bagiku. Karena pada saat tubuh ini capek dan butuh untuk di istirahatkan, mataku gak mau terpejam. Akhirnya aku mengambil handphone kemudian aku membuka aplikasi chatting yang tersedia. Iseng-iseng aku masuk Room Chat yang berlabel Islam didalamnya. Siapa tau lagi ada bahasan menarik yang bisa aku simak, sekaligus untuk mencari kenalan di dunia maya. Setelah masuk dalam Room, bahasan hanya sebatas ucapin salam dan jawab salam aja, karena banyak yang keluar masuk keluar masuk. Tapi gak papalah, toh jawab salam kan baik. Setelah beberapa saat, aku add beberapa nick yang ada dengan random alias asal add tanpa pilih-pilih dulu. Hingga tanpa terasa, tiba-tiba anak-anak udah rame membangunkan aku untuk sholat malam. Yaa Allah ternyata aku bisa terlelap juga.
Meskipun berat, tetap saja aku bangun. Maklumlah, aku hidup di tengah anak-anak yang ada di asrama. Asrama yang coba kami bangun dengan tekad memberikan pendidikan kepada anak-anak drop out. Aku bersama teman-teman seperjuangan dengan berbagai keterbatasan mengemban amanat yang diberikan oleh orang tua dari anak-anak tidak mampu itu untuk mendidik, mengayomi sekaligus menjadi bapak asuh mereka. Awal perjalanan kami memang rumit, pendidikan yang kami terapkan adalah pendidikan ala pesantren meskipun sebenarnya tidak ada diantara kami yang pantas menyandang predikat Kiyai. Tapi dengan kemauan yang keras, kami telah melewati banyak hal meskipun kami sadar masih banyak hal lain yang pasti akan kami hadapi. Tapi kami yakin, Allah tidak pernah tidur. Dan kami bersyukur hingga saat ini kami bisa bertahan.
Pada pagi hingga siang hari adalah waktu bagi anak-anak untuk sekolah, bagian dari kami mengajar anak-anak sedang beberapa teman kami keluar untuk mencari maisyah demi kalangsungan hidup kami. Sedangkan pada malam hari, biasanya aku lembur didepan komputer untuk mempersiapkan materi yang akan diajarkan pada anak-anak keesokan harinya. Karena memang biasanya aku gak bisa langsung tidur. Malah sering aku tertidur didepan computer yang masih menyala. Pelan-pelan kami jalankan semua proses dengan kekuatan kami. Bukannya sombong, tapi saat ini kebanyakan orang yang mampu alergi dengan orang yang meminta sumbangan. Apa yang kami lakukan belum berarti apa-apa hingga mereka melihat dengan jelas hasil dari proses pendidikan yang kami jalankan.
Malam itu, setelah aku menyelesaikan semua pekerjaan, waktu sudah menunjukkan jam 01:15 WIB malam. Karena mata belum mau terpejam, dan anak-anak juga belum waktunya bangun, akhirnya aku ambil lagi handphone dan membuka aplikasi chatting nya. Tidak lama kemudian setelah online, ada seseorang yang menyapaku dengan salam yang komplit alias lengkap. Nicknamenya RAN dan dia ternyata perempuan. Akhirnya aku chatting ma dia. Berkenalan dan akhirnya cerita banyak hal. Cerita yang sama sekali gak jelas ujung pangkalnya. Toh ini cuma chatting pikirku. Tak terasa waktu berlalu, entah apa saja yang sudah aku obrolkan dengan perempuan di tempat yang jauh disana. Ngakunya sih. Soalnya dia bilang ada Sulawesi Selatan.
Tepat pukul 03.00 WIB, aku bangunkan anak-anak untuk sholat malam. Sholat malam itu penting banget. Karena pada waktu sepertiga malam itu, Allah membuka lebar-lebar pintu rahmat-Nya untuk para hamnba yang mau bersujud pada-Nya. Setidaknya itulah yang diajarkan guru-guruku dulu. Dan sekarang aku dan teman-teman mengajarkannya pada anak-anak. Biasanya anak-anak setelah sholat malam, langsung disambung hingga shubuh. Setelah sholat shubuh ada kegiatan mengaji hingga waktu Ishrof. Waktu Ishrof itu adalah waktu pemisah antara shubuh dengan dhuha. Dan biasanya pada waktu-waktu seperti, rasa kantukku datang. Ngantuk banget. Akkhirnya aku putuskan untuk mengistirahatkan sejenak tubuhku dengan sebelumnya berpesan sama anak-anak untuk dibangunkan jam 07.00 WIB.
Yah begitulah diriku, sehari-harinya berkutat dengan kegiatan yang berhubungan dengan anak-anak. Tiada hari tanpa mereka. Tapi terus terang, meskipun kadang kesal, capek, marah, bosan dan lain-lain, rasa sayangku pada anak-anak selalu menghiasi kehidupanku. Mereka adalah hidupku, mereka adalah darahku.
Beberapa minggu berlalu, hubunganku dengan teman chattingku pun semakin intim. Kami merasa sudah sangat saling mengenal satu sama lain. Bahkan kami sudah saling bertukaran nomor handphone. Sehingga saat tidak online, maka kami saling mengirim sms dan telephone. Namanya adalah Vivian Maharani. Hemm, nama yang indah. Kalau dari namanya mungkin dia cantik sekali orangnya. Dia adalah seorang Bidan desa. Puskesmas di desanya membuka layanan UGD 24 jam, jadi sewaktu-waktu dia bisa saja menginap di Puskesmas karena Dinas. Usianya sudah dewasa. Bahkan kalau dilihat dari usianya, sudah saatnya dia menikah. Dia selisih 4 tahun lebih muda dariku. Pada 22 Oktober nanti, usianya genap 26 tahun. Banyak yang ia ceritakan tentang dirinya padaku. Dan banyak juga aku cerita tentang diriku padanya, termasuk tentang kehidupanku bersama anak-anak diasrama.
Dia bilang hatinya sedang terluka. Karena orang yang dia cintai meninggalkannya. Menikah dengan temannya sendiri. Ayahnya adalah seorang pedagang yang membuka kios di pasar dekat rumahnya. Dia punya seorang kakak perempuan yang sekarang sudah menikah dan punya anak dan seorang adik yang saat ini masih kuliah. Kalau aku boleh menilai sih, sebenarnya kehidupan mereka seperti biasa. Mereka bukan keluarga yang kaya raya, tapi cukup mapan. Mereka menjalankan aktifitas masing-masing sebagaimana aku juga menjalankan aktifitasku di asrama bersama anak-anak.
Tiap hari kami menyempatkan waktu luang untuk chatting. Karena kadang aku merasa, dengan chatting, obrolan bisa jadi lebih nyaman. Lagian bisa lebih hemat pulsa. Bahkan seringkali HPku aku biarkan online seharian sehingga di sela-sela aktifitas aku bisa chatting dengan dia. Dan sepertinya aku tak bisa melewatkan satu hari berlalu tanpa chat dengannya. Walaupun hanya seekedar mengucapkan salam.
Saat itu, anak-anak menjelang ujian akhir semester. Dan biasanya menjelang ujian seperti ini, saya dan teman-teman menjadi lebih sibuk. Mulai dari memberikan tambahan jam belajar dan materi pada anak-anak, kami juga harus menyiapkan soal-soal ujian. Tugas mengetik adalah bagianku. Jadi aku semakin sering lembur. Semakin jarang tidur malam, yang juga semakin jarang online. Hampir seminggu aku tidak online. Kalau sudah begitu aku hanya bilang kalau aku sangat sibuk ke Vivian lewat sms. Dia bisa mengerti, sehingga dia juga jarang online. Katanya sih nunggu sampai aku sempat online lagi. “Ya udah lah gak papa. Ntar kalau udah selesai semua kan bisa dilanjut.” Pikirku. Akupun sibuk dengan aktifitasku sendiri. Hingga beberapa hari berlalu tanpa online, tanpa sms, tanpa telephone, dan tanpa kontak dengan Vivian.
Diam-diam aku mulai sangat merindukannya. Aku ambil HPku, kemudian aku tekan nomornya yang sudah aku simpan. Tapi nomornya gak aktif. Beberapa kali aku coba hubungi, tapi tetap tidak aktif. Akhirnya aku putuskan untuk mengirimkan sms ke nomornya. “Ntar kalo nomornya dah aktif kan masuk sendiri.” Pikirku. Tapi nyatanya, setelah beberapa hari, laporan pesan yang muncul adalah expired.
Saat itu, tiba-tiba aku merasa ada yang hilang dalam hidupku. Saat-saat luang aku hanya melihat HPku dan mencoba menghubungi nomor Vivian yang tetap saja masih belum aktif. Aku gak tahu apa yang terjadi dengannya. Aku sering berpikir apakah karena aku gak pernah menghubunginya saat aku sibuk kemarin itu. Tapi kayaknya gak mungkinlah. Dia cukup dewasa untuk mengerti. Semakin aku berfikir, semakin aku gak menemukan jawaban, dan semakin kerinduan menyelimuti hatiku. Semakin lama rasa rindu itu semakin mengelora dalam kalbuku. Seakan tak bisa ku tahan lagi. Hatiku kalut, dalam benakku, nama Vivian telah menghapus nama-nama lain. Nama Vivian telah terukir dalam hatiku dengan begitu dalam.
Hari demi hari berlalu dengan kerinduan yang tak pernah hilang dari hatiku. Tapi aku selalu berusaha melewati waktuku dengan aktifitasku bersama anak-anak. Hanya saja kali ini, kata teman-temanku aku terlihat berbeda. Mereka bilang aku jadi pendiam. Meski begitu, teman-temanku tidak mau terlalu ikut campur dengan urusanku. Bagi kami, jika urusan pribadi tidak sampai mengganggu aktifitas diasrama, maka kami menganggap tidak ada masalah. Dan aku memang berusaha sebaik mungkin untuk tidak mencampur adukkan urusan pribadiku, apalagi perasaanku dengan kegiatan pendidikan anak-anak. Anak-anak tetaplah prioritas bagi kami. Tak ada yang lebih penting daripada anak-anak.
Suatu malam, badanku terasa sangat capek. Aku berniat tidur lebih cepat pada malam itu. Karena aku ingin istirahat. Tapi tetap saja mataku sulit terpejam. Padahal rasanya aku sudah sangat ngantuk banget. Aku minta tolong anak-anak untuk menginjak-injak punggungku, tentu saja aku sediakan snack untuk membalasnya. dengan semangat beberapa dari mereka menginjak-injak punggungku. Masya Allah, ternyata nyaman sekali. Sampai akhirnya akupun tertidur.
Seperti biasa pukul 03.00 WIB aku terbangun dan langsung membangunkan anak-anak untuk bersama-sama sholat malam. Dengan antrian kami mengambil wudhu kemudian setelah selesai, semua berkumpul diruangan musholla untuk sholat berjama’ah. Aktifitas seperti biasa dimulai. Setelah sholat shubuh kami lanjutkan dengan tadarusan. Kemudian anak-anak mengerjakan piket kebersihan. Akupun mandi untuk persiapan kegiatan selanjutnya. Setelah mandi dan ganti baju, aku mengambil HPku. Kulihat ada 7 panggilan tak terjawab disana. Setelah ku buka, tiba-tiba jantungku berdegub kencang. Nama Vivian tercantum disitu. Sejenak seperti ada air menyiram gersangnya hatiku yang merindu. Seketika itu juga hatiku berbunga-bunga. Aku tak sabar mendengarkan suaranya, kembali chatting dengannya, dan bercerita-cerita. Tapi pagi itu, aku musti mengajar. Jadi aku masih harus menahan keinginanku untuk menelpon Vivian. Orang yang sama sekali belum ku lihat wajahnya. Jangankan orangnya, fotonya belum ku lihat. Tapi aku sama sekali tak perduli dengan semua itu. Karena bagiku kecantikan tidak bisa diukur dari penampilan fisik saja. Selama ini aku merasakan kecantikan Vivian lewat suaranya yang halus, tutur katanya yang sopan, suara tangisnya yang seperti irama lagu mendayu-dayu. Rindu ini juga tak pernah ku undang. Ia hadir dengan kehendaknya sendiri. Menggelayut dalam keharmonisan irama hati. Yang semakin lama semakin menumbuhkan rasa cinta yang tak pernah bisa ku mengerti. Toh, seperti kata orang bijak bilang, cinta itu urusan memberi, bukan untuk meminta kembali.
Setelah usai semua kegiatan siang itu, lantas akupun mencari tempat menyendiri untuk menghubungi Vivian. Vivian pun mengangkat teleponnya. Suara di telephone tak terdengar. Terputus-putus. “Sinyal lagi gak bagus kali ya.” Pikirku. Aku lihat HPku. Sinyalnya penuh. Mungkin HPnya Vivian kali ya yang gak dapat sinyal. Akhirnya terpaksa kumatikan juga HP. Dan tak berapa lama kemudian, sebuah SMS masuk. Ternyata dari Vivian. “Kak, OL yuk!” begitu isi SMSnya. Dan akupun langsung Online.
Sejenak kami terhanyut dalam obrolan yang seru. Aku bilang semua yang aku rasakan selama ini padanya. Jempolanku sepertinya sudah fasih sekali bergoyang diatas keypad HP menuliskan kata-kata rindu, hingga aku sendiri gak sadar, dalam beberapa saat Vivian sama sekali gak membalas kalimat-kalimat yang aku kirimkan. “Kok diem aja?” kataku. Dia hanya membalas dengan sangat pendek. “K…” katanya. “Kenapa dik?” Jawabku. “Adk pgn ketemu ma kk.” Katanya lagi.
Aku terdiam sejenak, berfikir tanpa tahu apa yang ku fikirkan. Kalau saja ia tahu, keinginanku untuk bertemu dengannya lebih besar dari keinginanku terhadap yang lain di dunia ini.
“Adk serius pengen ketemu kk?” tanyaku.
“Ia kak! Pengen banget…” jawabnya lagi.
“KK juga pengen ketemu ma adk.” Kataku.
“Tapi tunggu kk libur ya dik.” Lanjutku.
“Ya udah, kalo kk g bisa g pa2.” Katanya.
“Kk janji akan ke tmpt adk.” Kataku.
Chatting pun berlanjut hingga waktu ashar tiba. Aku bilang pada Vivian aku aka nada kegiatan lagi sama anak-anak di asrama. Kemudia aku pamit ke dia sambil berjanji untuk datang.
Dalam pikiranku berkecamuk hasrat tak menentu. Aku ingin sekali saat itu segera tiba. Aku datang ke tempat Vivian, bertemu dengannya dan… tapi darimana aku dapat ongkos untuk berangkat kesana? Akhirnya akupun memutuskan untuk mengumpulkan uang yang aku punya sambil mencari kerjaan di luar untuk tambahan.
Beberapa hari kemudian, pada saat jam istirahat siang, aku menyalakan komputer. Kebetulan saat itu aku dapat garapan lay out majalah dari seorang teman. Lumayan lah buat tambahan, meskipun gak terlalu banyak. Aku duduk di depan computer dan akupun memulai pekerjaanku. Lantas samar-samar kudengar pintu depan Asrama diketuk. Akupun berdiri dari tempat dudukku dan mendekat ke pintu hendak membukakan pintu.
Setelah pintu ku buka, ku lihat seorang gadis, cantik, menggunakan mukena putih bersih berdiri di depan pintu. Aku kaget setengah mati. Lantas aku berusaha mengendalikan diriku dari rasa kaget itu. Kuperhatikan mukanya yang putih bersih namun agak pucat. Bibirnya tersenyum melihatku, tapi dari matanya keluar air mata bening menetes perlahan tanpa ia berusaha untuk mengusapnya. Aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Dia terlihat asing bagiku tapi rasanya aku seperti sudah sangat mengenalnya. Jantungku semakin berdegub kencang sedangkan dia tak mengucapkan sepatah kata pun. Agak lama kami saling berpandangan. Kami berdua masih di pintu, bahkan aku sampai lupa mempersilahkkan ia masuk. Sejenak kemudian ia mengucapkan salam. Hatiku semakin berdegub lebih kencang. Suara itu aku bisa merasakannya. Mulutku tak sanggup mengeluarkan sedikit kata-kata untuk menjawab salamnya. Aku semakin tegang, sekujur tubuhku serasa kaku tak mampu bergerak. Hingga aku disadarkan oleh getar dan suara ringtone HPku. Aku masukkan tanganku ke saku celanaku. Ku ambil HPku dan kulihat nama Vivian memanggil. Akhirnya akupun mengangkat HPku. Aku permisi sejenak kepada tamu bermukena yang sedang berdiri di depan pintu asramaku. Lantas aku mengangkat telpon itu. “Assalaamu’alaikum” Kataku. Gak ada jawaban, yang ada hanya suara tangis tersedu-sedu. Lantas sayup-sayup terdengar diantara suara tangis itu memanggil-manggil nama Vivian berkali-kali. Jantungku semakin berdegub kencang. Tubuhku semakin kejang. Akupun menoleh ke pintu dimana gadis itu berdiri. Di menghampiriku. Lantas dengan suara lembut dia bilang padaku.
“Kak….. Aku Vivian….”
Seketika aku merasa dunia ini gelap dan kemudian aku tak bisa lagi merasakan apa-apa…..
Saat aku tersadar, aku sudah berada di tengah kerumunan anak-anak asrama. Diantara anak-anak itu juga ada para Ustadz. Perlahan-lahan aku mulai bangkit kemudian aku duduk diantara mereka. Hatiku masih bergetar, aku mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi. Kejadian yang belum sepenuhnya aku mengerti. Seorang perempuan memakai mukena yang berdiri didepan pintu, telepon dari Vivian namun hanya terdengar suara tangis.
Setelah sekian lama baru aku mengerti, Vivian telah pergi. Selama ini ia menderita kanker otak akut yang menggerogoti kepalanya yang tidak pernah ia ceritakan kepadaku. Waktu HPnya tidak bisa aku hubungi dulu ternyata ia sedang dirawat dirumah sakit di daerahnya sana. Keluarganya menghubungi aku lewat telephone. Vivian telah bercerita banyak tentang diriku kepada keluarganya. Vivian sering kali bilang pada keluarga kalau dia ingin menemui aku sebelum pergi meninggalkan dunia ini. Ia dan keluarganya waktu itu tahu, secara medis, nyawa Vivian tidak akan bertahan lebih lama dari 2 bulan. Aku hanya bisa terdiam. Tak sepatah katapun terucap dari bibirku. Dan tanpa terasa pipiku telah terbasahi air mata. “Yaa Allah…..” desahku. “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rooji’uun”… Akupun tak sadarkan diri untuk kesekian kalinya….
***
Langganan:
Postingan (Atom)