Love is Dignition
Oleh: Moh. Ahsin Bik
Tok tok tok …..! Assalaamu’alaikum! Terdengar suara pintu diketuk. Armand dengan agak malas beranjak dari tempat duduknya. Ia dari dari tadi duduk didepan Televisi menyaksikan berita seputar kasus Bank Century. Kasus yang saat ini sedang hangat-hangatnya menjadi perbincangan di negeri tercinta Indonesia. Kasus yang menelan dana 6,7 Trliliyun. Ternyata tidak hanya di Ibukota kasus ini diperbincangkan, melainkan di desa kecil di Jawa Timur tempat Armand tinggal pun kasus ini ramai di bicarakan.
Wa’alaikum salam….! Jawab Armand setelah ia membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Andika. Andika adalah seorang teman yang selama ini menjadi wartawan surat kabar lokal. Apalah namanya… Tapi biasanya ia mengumpulkan berita tentang pendidikan. Atau sekedar mencari 86an dengan memanfaatkan kasus yang menimpa pejabat-pejabat daerah untuk menambah penghasilan harian. Ia sering bilang ke Armand tentang carut-marutnya pelaksanaan sistem pendidikan khususnya di daerahnya. Menurutnya banyak sekolah yang mengantongi predikat favorit hanya karena prestasi beberapa siswanya di tingkat Nasional. Itupun kebanyakan mereka ikut program pendidikan diluar seperti Bimbel, Kursus, Les Privat atau yang lain. Jadi bukan murni hasil pendidikan sekolah tempat siswa itu belajar. Sedang 90% dari jumlah siswanya yang lain memiliki prestasi yang biasa saja, sama dengan sekolah-sekolah lain yang gak favorit yang jelas-jelas biaya pendidikannya lebih murah. “He! Pa kabar? Tumben nyambang? Kemana aja situ gak perrnah nongol? Dapat banyak job ya? Ayo masuk!” Armand langsung menyerang Andika dengan banyak pertanyaan kemudian mempersilahkannya masuk.
“Nomormu ganti ya? Aku hubungi gak pernah aktif!” Tanya Andika sambil duduk lesehan diatas lantai yang beralaskan karpet. Maklumlah memang rumah Armand tidak menyediakan kursi diruang tamu. Melainkan menggelar karpet di atas lantai. “Biar bisa ngobrol nyantai kalau ada tamu.” Kata orang tua Armand waktu itu. Tapi memang benar, kesan pertama ketika masuk rumah Armand adalah kesan nyaman, santai, meskipun sebenarnya orang tua Armand adalah seorang tokoh masyarakat yang selama ini dikenal mampu mengayomi masyarakat. Seorang kiyai musholla yang santrinya banyak. Santrinya adalah anak-anak kecil warga sekitar rumahnya yang datang tiap sore waktu ashar hingga isya’ mereka baru pulang ke rumahnya masing-masing. Beliau mengajar ngaji di musholla yang ia bangun dengan dananya sendiri. Orang tua Armand adalah petani yang cukup sukses di daerahnya. Pak Sayyid Shirojul Munir namanya. Tapi orang-orang biasa memanggilnya Kiyai Sayyid. Luas lahan pertaniannya hampir seluas kampungnya yang tersebar di beberapa tempat. Para buruh tani yang bekerja pada ayahnya adalah warga sekitar sawahnya berada. Meskipun begitu, Kiyai Sayyid adalah orang yang selalu membuka pintu kepada semua tamu yang datang ke rumahnya. Dia tidak pernah membedakan tamu yang datang, mau tamunya itu kaya, miskin, orang minta sumbangan, atau orang yang sekedar ingin ngobrol dengan beliau. Bahkan suatu ketika, tengah malam, ada orang yang mencongkel pintu rumahnya, oleh Kiyai Sayyid malah di tunggu didalam rumah. Setelah orang yang mencongkel rumahnya itu masuk, oleh Kiyai Sayyid malah di persilahkan duduk, karena memang biasanya tengah malam itu Kiyai Sayyid sudah bangun dari tidurnya untuk sholat malam.
Armand kemudian ke belakang mengambil Air Minum mineral. “Ada kabar apa ne Mas Wartawan?” Tanya Armand sambil tertawa. “Masih belum bosen kan jadi Wartawan?” tanyanya lagi yang diikuti tertawa oleh Andika. Selama ini Armand dan Andika berteman karib. Armand adalah seorang aktifis lingkungan hidup yang sering keluar masuk hutan untuk menanam pohon. Bahkan ia memanfaatkan sepetak lahan ayahnya untuk menyimpan bibit sekaligus melakukan pembibitan. Ribuan jenis tanaman hutan ia semai bibitnya hingga memenuhi sepetak lahan itu. Teman-temannya para pecinta Alam seringkali datang untuk meminta bibitnya saat akan melakukan penghijauan hutan. Armand juga tergabung dalam Tim SAR Independent ketika terjadi bencana untuk melakukan Evakuasi. Ia sebenarnya jarang pulang ke rumah orang tuanya itu. Ia malah lebih sering di rumah yang ia kontrak bersama rekan-rekannya di desa dekat hutan bersama teman-temannya. Selain itu Armand juga melakukan pembinaan buat masyarakat Desa Hutan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Di beberapa tempat dia mendirikan lembaga pendidikan yang ia beri nama Sekolah Kampung Rohmatan Lil’Alamien. Materi pelajaran lebih banyak pada melatih skill anak-anak dan pemuda kampong untuk menjaga dan memanfatkan hutan dengan layak tanpa mengeksploitasi mereka. Dia mempunyai cita-cita menjadikan masyarakat desa pinggiran bisa hidup dari apa yang mereka hasilkan sendiri dengan melestarikan lingkungannya.
“Ngomong-ngomong tumben kamu di rumah?” Tanya Andika membuka pembicaraan. Sambil mengeluarkan sebungkus rokok kretek yang barusan ia beli di warung saat jalan menuju rumah Armand kemudian mengambilnya sebatang dan menghisapnya.
“Ia nih, kemarin malem aku pulang, kangen ma Orang Tua.” Jawab Armand yang juga mengeluarkan sebungkus rokok Mild dan menghisapnya sebatang juga. Sehingga asap rokokpun ikut menghiasi ruangan tempat mereka ngobrol.
“Kok tau aku pulang?” Tanya Armand karena memang biasanya Armand jarang dirumah.
“Udah lama aku pengen ketemu ma kamu Man. Tadi aku kesini juga kupikir siapa tau kamu pas di rumah. Soalnya nomermu ku hubungi gak pernah aktif.”
Armand dan Andika akhirnya terlibat pembicaraan serius. Beberapa bulan terakhir ini keadaan Andika dan Istrinya sedang dalam masalah. Masalah yang menurut Andika berat. Istrinya menuntut cerai karena merasa tidak tahan dengan Andika yang penghasilannya tidak jelas. Kadang dapet kadang kagak.
Pernah suatu ketika Istri Andika menelepon saat Andika sedang melakukan wawancara di rumah seorang kepala sekolah. Istrinya marah-marah karena waktu itu istrinya meminta Andika untuk mengantarkannya ke rumah orang tuanya. Dengan berat dan perasaan gak enak sekaligus malu kepada kepala sekolah yang sedang ia wawancarai itu, akhirnya Andika pamit untuk pulang. Setibanya di rumah kontrakan, ia langsung mengantarkan istrinya pulang. Dan sesampainnya di rumah mertuanya, Andika langsung pamit untuk kembali ke rumah kontrakannya tanpa menunggu istrinya bilang ya. Istrinya adalah seorang guru TK. Mereka berdua menempati rumah kontrakan yang berjarak sekitar 50 km dari rumah mertua Andika. Selama ini memang Andika dan Istrinya seminggu sekali pulang ke rumah orang tua istrinya. Setiap sabtu dan minggu kemudian hari senennya kembali ke kontrakan karena Istrinya harus mengajar di TK.
Semenjak kejadian itu, Andika gak pernah mau mengantar Istrinya pulang, dan menyuruhnya untuk pulang sendiri. Kalaupun mau mengantar, pasti karena terpaksa atau jika di rumah sedang ada acara yang Andika merasa gak enak hati untuk tidak hadir. Dan Andika lebih memilih diam dirumah kontrakan. Dan kalau ingin kemana-mana ia harus jalan kaki, karena satu-satunya motor dibawa istrinya pulang.
Begitu seterusnya hingga beberapa bulan. Saat Andika mencoba bicara dengan Istrinya pun yang terjadi malah adu mulut yang sama sekali tidak jelas ujung pangkalnya. Akhirnya hubungan Andika dengan Istrinya menjadi tidak harmonis. Mereka berdua tinggal satu rumah tapi berjalan sendiri-sendiri. Saat sama-sama di rumahpun tidak ada pembicaraan yang berarti. Malah kadang-kadang Andika pulangnya larut malam hanya untuk tidur meskipun ketika di luar ia tidak banyak melakukan aktifitas.
Sebenarnya Andika sadar, keadaanya memang sulit. Awalnya ia menjadi wartawan karena memang ia tidak menemukan pekerjaan lain yang lebih menghasilkan. Surat kabar tempat ia bernaung pun adalah surat kabar lokal yang opletnya kecil. Hasilnya tidak sebanding dengan kerja keras yang ia lakukan. Tapi semakin lama ia semakin menikmati pekerjaan sebagai wartawan. Andika merasa dunia jurnalistik telah menjadi dunianya. Dunia jurnalistik menjadi dunia tempat ia mengekspresikan pikiran-pikirannya, ide-idenya dan lain sebagainya. Namun istrinya menginginkan Andika bisa bekerja secara normal, menjadi karyawan di sebuah perusahaan, dengan gaji tetap, berangkat pagi, pulang sore, setelah itu berkumpul dengan istrinya.
“Memangnya wartawan bukan pekerjaan yang normal?” pikirnya waktu itu. Tapi penghasilan yang ia dapat memang tidak pasti jumlahnya, kadang besar, kadang kecil, malah kadang tidak mendapat penghasilan. Karena sebagai wartawan dari surat kabar lokal, Andika musti pintar dan hati-hati dalam memanfaatkan situasi. Penghasilannya adalah dari para pejabat yang bersedia memberinya uang atau istilah teman-teman wartawan adalah 86an, atau dari perusahaan-perusahaan yang memasang Iklan pada surat kabar yang ia punya, dan juga dari hasil penjualan surat kabarnya. Sedangkan pekerjaannya tidak terhitung jam. Tapi menjadi wartawan memang complicated alias rumit. Banyak hal yang tidak bisa di fahami ditengah banyaknya yang dihadapi. Mulai dari idealisme hingga kesempatan menjual diri, kritis hingga krisis dan lain sebagainya. Satu sisi seorang wartawan banyak melihat realitas sosial yang tidak adil sedangkan disisi lain, seorang wartawan terkadang berada dalam belitan ketidak adilan itu. Setidaknya itu juga yang dirasakan Andika sebagai seorang wartawan.
Nyatanya permintaan sederhana dari istrinya itu tidak bisa Andika wujudkan. Bukan tidak mau, tapi berkali-kali ia gagal dalam pekerjaan-pekerjaan yang sudah ia lakukan sebelumnya. Andika pernah bekerja sebagai sales makanan ringan namun hanya bertahan 1 kali kontrak selama 3 bulan dan tidak bisa di perpanjang lagi. Di satu sisi Andika hanya ingin Istrinya bisa menerima keadaan ini dengan sabar. Tidak perlu melampiaskan setiap kekesalan dengan kata-kata kasar, apalagi pada suaminya sendiri. Toh selama ini, Andika dan Istrinya tidak pernah kelaparan.
Andika menceritakan semua yang terjadi dalam rumah tangganya kepada Armand. Ia sebelumnya tidak pernah menceritakan kemelut yang terjadi di dalam rumah tangganya itu kepada siapapun. Bahkan selama ini kepada teman-temannya Andika tidak pernah menunjukkan tanda-tanda ada masalah dalam rumah tangganya. Namun kali ini ia terpaksa menceritakan masalahnya kepada Armand sekedar untuk share, sekaligus menemukan solusi dan mengeluarkan segala uneg-uneg yang selama ia simpan sendiri kepada temannya. Ia mengenal Armand selama ini adalah sosok orang yang perduli dengan teman, meskipun penampilannya cuek bahkan sering bercanda dan jarang kelihatan serius. Dan yang paling penting Armand adalah orang yang cerdas, bijaksana dalam mengambil keputusan dan suka menolong. Tapi sayangnya Armand belum juga menemukan istri pendamping. Kekasih Armand dulu adalah seorang Pecinta Alam juga, namanya Diana Anindita, namun meninggal saat rencana pernikahan sudah ditentukan karena kecelakaan.
Kekasih Armand terjatuh dan masuk kedalam jurang dan meninggal waktu itu juga saat melakukan ekspedisi di Kalimantan. Armand juga ada di sana waktu itu, tapi ia tak bisa menyelamatkan kekasihnya. Dan hingga saat ini, Armand belum menemukan orang yang bisa menggantikan kekasihnya itu.
“Man, aku bingung, saat ini aku gak tau harus bagaimana. Istriku meminta cerai.” Armand memperhatikan temannya dengan seksama. Ia sendiri sebenarnya gak tau harus bilang apa ke temannya itu. Karena ia sendiri merasa tidak mempunyai pengalaman sama sekali tentang rumah tangga, tentang permasalahan yang terjadi di dalamnya, tentang apapun yang ada dalam rumah tangga. Tapi Armand bisa merasakan kesedihan temannya itu.
Tak terasa, puntung rokok di dalam asbak sudah menumpuk. Armand kembali lagi menyulut sebatang rokok. Begitu juga Andika.
“Dik! Kamu masih sayang sama istrimu? Apa kamu mencintai istrimu?” Armand terdiam sejenak.
“Sorry Bro! Bukan maksudku mempertanyakan pertanyaan bodoh ini sama kamu.” Armand jadi salah tingkah dengan pertanyaan yang menurutnya bodoh itu yang dia lontarkan ke Andika. Ya jelaslah Andika masih sayang sama Istrinya, Andika masih mencintai Istrinya. Andika hanya memandangi Armand yang jadi salah tingkah.
Tapi Andika mulai memikirkan pertanyaan temannya itu. Kemudian ia mencoba merasakan apa yang ada dalam hatinya. Benarkah masih ada cinta di hatinya itu untuk istrinya. “Gak papa Man, aku juga sedang berfikir tentang perasaanku saat ini sama Istriku.” Kata Andika kemudian.
“Aku bukan orang yang berpengalaman dengan rumah tangga, karena aku sendiri belum berkeluarga. Mustinya kan kamu yang ngasih aku nasehat tentang keluarga. Tapi ada beberapa hal yang aku ingat, ini juga aku cuma dengar dari Bapakku saat memberi nasehat ke tamunya yang datang.” Armand memulai pembicaraan.
“Seorang laki-laki adalah imam dalam keluarga. Tanggung jawab imam adalah memimpin, mendidik, mengayomi, memberi nafkah, dan lain sebagainya. Kekuatan bahtera rumah tangga yang di bangun tergantung bagaimana seorang laki-laki atau suami mampu memimpin, mampu mendidik, mampu mengayomi dan juga mampu memberi nafkah pada keluarganya. Disamping itu, kekuatan itu harus didukung dengan keihlasan istri dalam menerima keadaan yang ada dalam rumah tangga itu.” “Begitu kira-kira bro!” kata Armand memberi nasehat. “Waduh, jadi kayak orang tua aku ya.” Armand melanjutkan kalimatnya dengan bercanda. “Emang kamu udah tua Man, Cuma kamu aja yang belum kawin. Tuh temen-temen seumuran kamu udah pada punya cucu.” Lalu mereka berduapun tertawa memecahkan keseriusan.
“Trus kamu sendiri gimana Man? Udah ada calon yang baru belum? Kan banyak tu temen-temen kamu yang aku yakin pasti mau sama kamu! Ada Nia, ada Irma, Yeni, dan satu lagi tu siapa namanya…. Kayaknya kalau aku perhatikan dia perhatian tu sama kamu!” tanya Andika.
“Gak tau lah bro! Aku masih belum bisa melupakan Dian. Dia telah masuk terlalu dalam dalam hatiku.” Timpal Armand.
“Bagiku cinta itu Dignition, It’s a gift. Allah menghadirkan cinta kepada orang yang dikehendaki. Allah juga yang kuasa mencabutnya kembali. Meskipun kadang nafsu kita membungkusnya dengan hal-hal yang membuatnya tak suci lagi. Tapi menurutku kita boleh kok meminta kepada Allah untuk menganugerahkan cinta dalam hati kita buat seseorang. Dan kalau kita minta dengan sungguh-sungguh, Allah pasti mengabulkan. Kalau yang kita tidak minta saja Allah sanggup memberikan pada kita, apalagi dengan yang kita minta, do’a kita! Iya kan?” Lanjut Armand.
“Bro! cinta itu urusan memberi, bukan sekedar mengharap kembali. Kalau kita mencintai seseorang, kita juga harus mau mengerti dan menerima dia sesuai yang ada padanya. Bukan dengan mengada-adakan atau mungkin menolak apa yang akan ada padanya. Apa yang kita miliki kita berikan padanya. Kebahagian kita adalah melihat orang yang kita cintai bahagia. Meskipun jika pada endingnya orang yang kita cintai bisa berhagia tanpa kita atau merasa bahagia dengan orang lain.”
Kita tidak berhak untuk merubah orang yang kita cintai menjadi seperti apa yang kita inginkan. Karena aku yakin kita sendiri juga gak suka orang lain merubah kita seperti yang mereka suka. Mungkin juga jika sesuatu bisa menyakiti kita, berarti juga bisa menyakiti orang lain jika itu menimpanya. Kalau ada yang mau kita ubah, maka pertama yang kita ubah adalah diri kita sendiri. Tentu saja berubah untuk menjadi lebih baik.”
“Kita seringkali munafik dengan diri kita sendiri, kita pura-pura gak butuh padahal kita butuh, kita pura-pura gak peduli padahal kita peduli. Kita seringkali beranggapan bahwa yang kita rasakan adalah yang paling berat padahal sebenarnya tidak seberapa jika di bandingkan dengan orang-orang yang secara defacto jauh lebih menderita dibandingkan kita.”
“Saat ini, Allah menganugerahkan banyak cinta dalam hatiku, cinta terhadap orang-orang desa itu, cinta terhadap aktifitasku saat ini. dan aku selalu berharap Allah juga segera menganugerahkan rasa cinta dalam hatiku buat seseorang yang dikirim oleh Allah untuk menjadi pendamping hidupku.”
“Man, kamu ngomong apa’an sih?” tanya Andika menghentikan ucapan Armand.
“Aku sendiri gak tau ngomong apa’an barusan.” Sahut Armand.
Akhirnya mereka berdua terdiam dan kemudia tertawa terbahak-bahak. Dalam benak Andika mulai menggelayut pikiran-pikiran tentang apa yang baru saja dikatakan Armand. Ia mulai berfikir tentang dirinya sendiri, tentang kemelut yang terjadi di tengah rumah tangganya. Ia menyadari selama ini juga selalu egois dengan apa yang dikerjakannya. Ia jarang memperhatikan Istrinya yang mungkin sebenarnya hanya butuh perhatian lebih darinya. Ia akan berusaha memperbaikinya. Ia akan membicarakan permasalahan rumah tangga ini dengan Istrinya. Dalam hatinya ia berharap bisa membuat Istrinya bahagia dengan keadaannya sekarang. Tiba-tiba di tengah gelak tawa keduanya, ada orang yang mengucapkan salam. Dan secara serentak mereka berdua menjawab salam itu. Ternyata itu adalah Kiyai Sayyid yang baru datang dari kebun. “Eh ada tamu tho!” Kiyai Sayyid menyapa Andika dan Andika mengangguk sambil menyalami Kiyai Sayyid. “Man, sudah ashar ne, sholat dulu trus diajak makan temennya itu ya…!”
***
Jakarta, 13 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar